Rabu, 08 Januari 2014

PRINSIP-PRINSIP AKUNTANSI SYARIAH




Berdasarkan prinsip-prinsip syari’ah masalah akuntansi akan berkait pula dengan prinsip-prinsip syari’ah, karena syari’ah mencakup seluruh aspek kehidupan umat manusia, baik ekonomi, politik, sosial dan falsafah moral. Dengan demikian syari’ah berhubungan dengan seluruh aspek kehidupan manusia termasuk di dalam hal akuntansi (Muhammad, 2002:112). Wan Ismail Wan Yusoh (2001 dalam Harahap, 2001:212) mengemukakan beberapa syarat sebagai dasar-dasar akuntansi syari’ah, sebagai berikut: 1) benar (truth) dan sah (valid), 2) adil (justice), yang berarti menempatkan sesuatu sesuai dengan peruntukannya, diterapkan terhadap semua situasi dan tidak bias, harus dapat memenuhi kebutuhan minimum yang harus dimiliki oleh seseorang, 3) kebaikan (benevolence/ihsan), harus dapat melakukan hal-hal yang lebih baik dari standar dan kebiasaan. Sebenarnya prinsip-prinsip akuntansi konvensional telah mema-sukkan aspek-aspek seperti yang diutarakan di atas hanya saja prinsip conservatism yang selalu membela kepentingan pemilik modal menjadi tidak sejalan dengan prinsip-prinsip akuntansi syari’ah (Adnan, 1997 dalam Harahap, 2001:213).
Muhammad (2002:114-115) mencoba merumuskan prinsip-prinsip akun-tansi syari’ah dengan membagi dua bagian: 1) berdasarkan pengukuran dan penyingkapan, dan 2) berdasarkan pemegang kuasa dan pelaksana.
1.    Prinsip akuntansi syari’ah berdasarkan pengukuran dan penyingkapannya terdiri dari, Zakat: penilaian bagian-bagian yang dizakati diukur secara tepat, dibayarkan kepada mustahik sesuai yang dikehendaki oleh Al-Qur’an (delapan asnaf) atau zakat dapat pula disalurkan melalui lembaga zakat yang resmi. 2) Bebas bunga: Entitas harus menghindari adanya bunga dalam pembebanan-pembebanan dari transaksi yang dilakukan, menghindari hal ini akan lebih tepat bila entitas berbentuk bagi hasil atau bentuk lain yang sifatnya tidak memakai instrumen bunga. 3) Halal: menghindari bentuk bisnis yang berhubungan dengan hal-hal yang diharamkan oleh syari’ah, seperti perjudian, alkohol, prostitusi, atau produk yang haram lainnya. Menghindari transaksi yang bersifat spekulatif, seperti bai’ al-gharar; munabadh dan najash.
2.    Prinsip akuntansi syari’ah berdasarkan pemegang kuasa dan pelaksana terdiri dari: 1) Ketaqwaan: mengakui bahwa Allah adalah penguasa tertinggi. Allah melihat setiap gerak yang akan diperhitungkan pada hari pembalasan. Dapat membedakan yang benar (al-haq) dan yang salah (al-bathil). Mendapatkan bimbingan dari Allah dalam pengambilan keputusan. Mencari ridha dan barakah Allah dalam menjalankan aktivitas. 2) Kebenaran: visi keberhasilan dan kegagalan yang meluas ke dunia mencapai maslahah. Menjaga dan memperbaiki hubungan baik dengan Allah (hablun min Allah) dan menjaga hubungan dengan sesama manusia (hablun min al-nas). 3) Pertanggungjawaban: Pertanggung-jawaban tertinggi adalah kepada Allah, berlaku amanah. Mengakui kerja adalah ibadah yang selalu dikaitkan dengan norma dan nilai “syari’ah”. Merealisasikan fungsi manusia sebagai khalifah di muka bumi dan bertanggung jawab atas perbuatannya. Berbuat adil kepada sesama ciptaan Allah, bukan hanya kepada manusia.
Merujuk dari investigasi yang dilakukan oleh Syahatah (2001:73-92) kaidah akuntansi yang terpenting berdasarkan hasil istimbath dari sumber-sumber hukum Islam (syari’ah), adalah sebagai berikut:
a.    Independensi jaminan keuangan. Perusahaan hendaklah mempunyai sifat yang jelas dan terpisah dari pemilik perusahaan.
b.    Kesinambungan aktivitas. Kaidah ini memandang bahwa aktivitas suatu per-usahaan itu mesti berkesinambungan (terus beraktivitas).
c.    Hauliyah (pentahunan/penetapan periode). Sesuai dengan firman Allah dalam Al-Qur’an (9:36) “sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah ialah dua belas bulan ...” jadi periode akuntansi syari’ah lebih tepat memakai putaran tahun, karena hal tersebut juga berhubungan dengan nisab zakat yang menggunakan bilangan tahun.
d.   Pembukuan langsung dan lengkap secara detail. Kaidah ini menghendaki pembukuan secara rinci dalam mencatat transaksi, dimuali dari tanggal, bulan, tahun, dan aktivitas-aktivitas yang dilakukan, hal ini disarkan perintah dalam Al-Qur’an (2:282) “uktubuhu” perintah mencatat kemudian “ila ajalin musamma” menunjukkan suatu tanggal kejadian tertentu.
e.    Pembukuan disertai dengan penjelasan atau penyaksian obyek. Kaidah ini menghendaki pembukuan semua aktivitas ekonomi keangan berdasarkan dokumen-dokumen yang mencakup segia bentuk dan isi secara keseluruhan. Dalam fikih Islam, bentuk ini disesbut pencatatan dengan kesaksian.
f.     Pertambahan laba dalam produksi, serta keberadaannya dalam perdagangan. Dalam fikih islam, laba dianggap sebagai perkembangan pada harta pokok yang terjadi dalam masa haul (periode akuntansi), baik setelah harta itu diubah dari barang menjadi uang meupun belum berubah. Kaidah inilah yang dipakai dalam menghitung zakat mal.
g.    Penilaian uang berdasarkan emas dan perak. Al-Qur’an telah mengisyaratkan bahwa emas dan perak adalah sebagai wadah sentral dalam penetapan harga (QS, 12:20, 3:75, 9:34)
h.    Prinsip penilaian harga berdasarkan nilai tukar yang sedang berlaku. Implementasi kaidah ini untuk memelihara keselamatan dan keutuhan modal pokok untuk perusahaan dari segia tingginya volume proses penukaran barang dan kemampuan barang itu untuk berkembang dan menghasilkan laba.
i.      Prinsip perbandingan dalam menentukan laba. Prinsip ini ditujukan untuk menghitung dan mengukur laba atau rugi pada perusahaan mudharabah yang kontinu, serta menentukan aktivitas-aktivitas ekonomi lainnya yang menghen-daki perbandingan antara beban-beban dan uang masuk selama periode tertentu.
j.      Prinsip muwa’amah (keserasian) antara pernyataan dan kemaslahatan. Catatan akuntansi harus menjelaskan keterangan-keterangan yang telah dipublikasikan secara wajar, yaitu sesuai dengan kesanggupan dan situasi serta metode yang digunakan yang dapat melindungi kemaslahatan serta tidak menimbulkan kemudharatan.

Sumber:

Pengendalian atas Strategi yang Terdiferensiasi




A.    Strategi  Korporat
Strategi korporat adalah suatu kontinum dengan strategi industry tunggal diversifikasi yang tidak berhubungan. Industri tunggal adlah perusahaan yang cenderung terorganisasi secara fungsional , manager senior bertanggung jawab mengembangkan strategi perusahaan keseluruhan.
Tetapi tidak semua perusahaan industri tunggal di organisasi secara fungsional misalnya saja rantai restoran cepat saji, hotel, supermarket dan toko obat adalah perusahaan industri tunggal tetapi perusahaan–perusahaan itu diorganisasi berdasarkan unit-unit bisnis, masing-masing mempunyai fungsi produksi dan dan pemasaran.
1.      Implikasi terhadap Struktur Organisasi

Strategi Korporat yang berbeda: Implikasi terhadap Struktur Organisasi

Industri tunggal
Diversifikasi Berhubungan
Diversivikasi tidak berhubungan
Struktur Organisasi
Fungsional
Unit Usaha
Induk Perusahaan
Pengenalan Industri dari manajemen korporat
Tinggi

Rendah
Latar belakang industri dari manajemen korporat
Pengalaman operasi yang relevan (produksi, pemasaran, litbang)

Utamanya keuangan
Wewenang dari pengambilan keputusan
Lebih tersentralisasi

Lebih terdesentralisasi
Ukuran staf kor[porat
Tinggi
Rendah
Ketetrgantungan pada proposi internal
Tinggi

Rendah
Penggunaan trasnfer internal
Tinggi

rendah
Budaya korporat
Kuat

Lemah





2.      Implikasi terhadap pengendalian Managemen
Strategi perusahaan yang berbeda mengimplikasikan perbedaan-perbedaan yang berikut ini dalam konteks dimana sistem pengendalian perlu dirancang
 Ketika perusahaaan lebih terdiversifikasi para manajer tingkat korporat mungkin tidak memiliki  pengetahuan yang signifikan mengenai atau pengetahuan dalam aktivitas dari berbagai unit bisnis.Jika demikian maka manajer tingkat korporat cenderung akan mengerjakan sesuai dengan apa yang diketahuinya
Perusahaan industri tunggal dan terddiversifikasi yang berhubungan memiliki kompetensi inti  tingkat korporat . Saluran-saluran komunikasi dan alih kompetensi menjadi sangat penting.

a.      Perencanaan Strategis
Rendahnya saling ketergantungan , konglomerat cenderung menggunakan sistem perencanaan strategis vertikal yaitu unit bisnis menyiapkan rencana strategis dan menyerahkan kepada manajemen senior untuk untuk ditinjau dan disetujui.
Untuk perusahaan yang terdiversifikasai terhubung dan industri tunggal yang memiliki tingkat ketergantungan tingkat tinggi maka sistem perencanaan strategis cenderung vertikal dan horisontal.

Strategi Korporat yang berbeda: Implikasi Terhadap Pengendalian Manajemen

Industri Tunggal
Diversivikasi Berhubungan
Diversivikasi tidak berhubungan
Perencanaan Strategis
Vertikal dan Horisontal

Hanya vertikal
Penyusunan AnggaranPengendalian relatif atas manager unit bisnis terhadap formulasi anggaran
Rendah

Tinggi
Pentingnya pencapaian anggaran
Rendah

Tinggi
Penetapan harga transfer : Pentingnya penetapan harga transfer
Tinggi

Rendah
Fleksibilitas pencarian sumber
Jarak

Penetapan harga transfer berdasarkan transakasi pasar
Kompensasi insentif Kriteria bonus
Kriteria Keuangan dan Non Keuangan

Kriteria keuangan utama
Pendekatan penetapan bonus
Utamanya subjektif

Terutama Formula Pokok
Dasar bonus
Baik berdasarkan kinerja unit bisnis maupun kinerja korporat

Terutama berdasarkan pada kinerja unit bisnis

b.      Penyusunan Anggaran
Dalam perusahaan industri tunggal CEO mengetahui operasi perusahaan secara mendalam dan manajer unit bisnis cenderung memiliki hubungan yang lebh sering, dengan mekanisme yang  informal sebagai alat pengendali,dan orientasi pribadi. Dalam industri  yang terdiversifikasi komunikasi dan kendali  melalui sistem penyususnan anggaran yang formal.

c.       Penetapan Harga Transfer
Transfer barang dan jasa antar unit bisnis lebih sering tertjadi pada perusahaan industri tunggal dan perusahaan terdiversifikasi yang berhubungan dibandingkan dengan pada perusahaan konglomerat.

d.      Kompensasi Insentif
Penggunaan Rumus. Konglomerat menggunakan rumus dalam menentukan bonus manajer unit bisnis yaitu mendasarkan pada porsi yang lebih besar dari bonus ukuran-ukuran keuangan kuantitatif seperti x persen bonus atas nilai tambah ekonomi (Economic Value Added- EVA)  aktual diatas EVA yang dianggarkan.
Ukuran-ukuran profitabilitas. Perusahaan terdiversifikasi yang tidak berhubungan bonus insentif dari manager unit bisnis ditentukan oleh profitabilitas unit tersebut.  Perusahaan tunggal dan perusahaan terdiversifikasi yang berhubungan mendasarkan pada kinerja unit bisnis dan kinerja organisasi yang lebih besar.

B.     Strategi Unit Bisnis
1.      Misi
a.      Misi dan Ketidakpastian
Unit-unit yang membangun cenderung menghadapi ketidakpastian lingkungan dibandingkan unit- unit yang memanen karena beberapa alasan :
·         Strategi membangun dilaksanankan pada tahap pertumbuhan dari siklus hidup produk, sedangkan strategi memanen dilaksanakan pada tahap dewasa/menurun.
·         Tujuan dari unit bisnis membangun adalah untuk meningkatkan pangsa pasar
·         Pada sisi input maupun output , manager dari unit bisnis membangun cenderung mengalamai ketergantungan yang lebih besar pada individu dan organisasi eksternal dibandingkan dengan para manager unit bisnis yang memanen
·         Manager unit bisnis membangun memiliki pengalaman yang lebih sedikit sehingga hal ini memberikan kontribusi ketidakpastian yang lebih besar
b.      Misi dan Rentang Waktu
Pemilihan strategi membangun dan memanen mempunyai implikasi trade off laba jangka pendek versus jangka panjang . Strategi membangun pangsa pasar meliputi :
1)      Pemotongan harga
2)      Pengeluaran litbang yang besar
3)      Pengeluaran pengembangan pasar utama
Strategi memanen berkonsentrasi kepada memaksimalkan laba jangka pendek
c.       Perencanaan Strategis
Perencanaan strategis diutamakan untuk unit bisnis yang membangun  terutama pada tahap pertumbuhan dari siklus hidup produk,manajer senior mungkin menetapkan tingkat diskonto yang lrelatif rendah dengan demikian memotivasi manajer untuk mengemukakan ide investasi  ke kantor korporat, analisiss keuangan pada unit membangun  mungkin tidak dapat diandalkan sehingga data-data non keuangan menjadi lebih penting  sedangkan untuk yang memanen hanya bersifat umum karena lingkunagnnya cenderung lebih stabil

Misi strategis yang berbeda : implikasi terhadap proses perencanaan strategis

Membangun
Mempertahankan
Memanen
Pentingnya perencanaan strategis
Relatif tinggi

Relatif rendah
Formalisasi keputusan pengeluaran modal
Lebih sedikit analisis

Lebih banyak analisis
Kriteria evaluasi pengeluaran modal
Penekanan pada data non keuangan

Penekanan pada data keuangan
Tarif diskonto
Relatif rendah

Relatif tinggi
Analisis investasi modal
Lebih subjectif

Lebih objectif
Batas persetujuan proyek pada unit bisnis
Relatif tinggi

Relatif rendah

d.      Penyusunan Anggaran
Dalam penyusunan Anggaran antara unit bisnis membangun dan memanen berbeda. Unit bisnis membangun dimungkinkan lebih sering melakukan revisi anggaran karena perubahan pangsa pasar produk dan lingkungan. Manajer unit bisnis yang membangun mempunyai unit dan pengaruh yang lebih besar dalam memformulasikan anggaran karena beroperasi dalam lingkungan yang cepat berunah dan memiliki pengetahuan yang lebih baik mengenai perubahan-perubahan yg terjadi dibandingkan dengan manajer senior

Misi Strategis : Implikasi terhadap Penyusunan Anggaran

Membangun
Mempertahankan
Memanen
Peranan Anggaran
Lebih sebagai alat perencanaan jangka pendek

Lebih sebagai alat pengendalian
Pengaruh Manajer unit bisnis dalam penyususnan anggaran tersebut
Relatif tinggi

Relatif rendah
Revisi anggaran selama tahun berjalan
Relatif mudah

Relatif sulit
Frekuensi pelaporan dan kontak informal dengan atasan
Lebih sering mengenai masalah kebijakan : lebih jarang mengenai masalah operasi

Lebih jarang mengenai masalah kebijakan: lebih sering mengenai masalah operasi
Frekuensi atasan mengenai kinerja aktual versus anggaran
Kurang sering

Lebih sering
Batasan pengendalian yang digunakan dalam evaluasi periodeik terhadap anggaran
Relatif tinggi yaitu lebih fleksibel

Relatif rendah (yaitu kurang fleksibel)
Pentingnya pencapaian anggaran
Relatif rendah

Relatif tinggi
Pengendalian output versus perilaku
Pengendalian perilaku

Pengendalian output

e.       Sistem Kompensasi Insentif
Misi Strategis Yang Berbeda : Implikasi Terhadap Kompensasi Insentif

Membangun
Mempertahankan
Memanen
Persentase Kompensasi
Dalam Bentuk Bonus
Relatif Tinggi
 
Relatif rendah
Kriteria Bonus
Menekankan pada kriteria nonkeuangan

Menekankan pada kriteria keuangan
Pendekatan Penentuan
Bonus
Lebih subjektif

Lebih berdasarkan rumus
Frekuensi Pembayaran
Bonus
Lebih Jarang

Lebih sering







2.      Keunggulan Kompetitif
Suatu unit bisnis dapat memilih untuk bersaing baik sebagai pemain terdiferensiasi atau sebagai pemain biaya rendah. Memilih pendekatan diferensiasi, dan bukannya pendekatan biaya rendah, meningkatkan ketidakpastian dalam lingkungan tugas unit bisnis karena tiga alasan.
Pertama, inovasi produk adalah lebih penting bagi unit bisnis diferensiasi. Hal ini sebagaian disebabkan karena unit bisnis diferensiasi terutama fokus pada keunikan dan eksklusivitasnya, yang memerlukan inovasi produk yang lebih besar. Sementara unit bisnis yang berbiaya rendah, dengan penekanan utama pengurangan biaya, biasanya lebih memilih untuk mempertahankan agar penawaran produknya stabil sepanjang waktu.
Kedua, unit bisnis biaya rendah biasanya cenderung untuk mempunyai lini produk yang sempit guna meminimalkan biaya penyimpanan persediaan dan memperoleh manfaat dari skala ekonomi.
Ketiga, unit bisnis biaya rendah biasanya menghasilkan produk sederhana yang bersifat komoditas, dan produk-produk ini sukses semata-mata karena memiliki harga yang lebih rendah daripada produk saingan. Tetapi, produk dari unit bisnis diferensiasi akan sukses jika pelanggan memandang bahwa produk tersebut menawarkan keunggulan dibandingkan dengan produk saingan. Karena persepsi pelanggan sulit dipelajari dan loyalitas pelanggan dapat berubah karena beberapa alasan, sehingga lebih sulit untuk memprediksi permintaan produk terdiferensiasi dibandingkan dengan permintaan untuk komoditas.

3.      Perbedaan Dalam Gaya Manajemen
Para manajer mengelola secara berbeda. Beberapa manajer sangat bergantung pada laporan dan dokumen formal tertentu, sementara yang lainnya lebih menyukai percakapan dan kontak informal.
Gaya manajemen dipengaruhi oleh latar belakang, dan kepribadian dari manajer yang bersangkutan. Latar belakang meliputi hal-hal seperti umur, pendidikan formal dan pengalaman pada suatu fungsi tertentu, seperti produksi, teknologi, pemasaran, atau keuangan. Karakteristik kepribadian meliputi variabel-variabel seperti kemauan manajer mengambil resiko dan toleransi ambiguitas.
4.      Implikasi Terhadap Pengendalian Manajemen
Gaya manajemen mempengaruhi proses pengendalian manajemen-bagaimana CEO memilih untuk menggunakan informasi tersebut, mengadakan pertemuan-pertemuan peninjauan kinerja, yang pada akhirnya mempengaruhi bagaimana sistem pengendalian sebenarnya beroperasi.
a.       Pengendalian Personal Versus Impersonal
Keberadaan pengendalian personal versus pengendalian impersonal dalam organisasi adalah sebuah aspek dari gaya manajerial. Manajer berbeda dalam hal seberapa pentingnya anggaran dan laporan-laporan formal serta percakapan-percakapan informal dan kontak personal lainnya.
b.      Pengendalian Ketat Versus Pengendalian Longgar
Gaya manajer mempengaruhi tingkat dari pengendalian ketat versus pengendalian longgar dalam situasi apapun. Tingkat kelonggaran cenderung meningkat pada tingkatan-tingkatan yang lebih tinggi dalam hierarki organisasi.

Sumber: